syarat cari karis dan askes untu istri/suami


Syarat Mendapatkan Karis/Karsu Syarat Pembuatan Kartu Istri / Suami (Karis/Karsu) :

1. Foto copy Akta Nikah.

2. Foto copy SK CPNS.

3. Foto copy SK PNS.

4. Foto copy Kartu Pegawai (KARPEG).

5. Pas Foto Ukuran 2 x 3 (dua lembar). Masing-masing rangkap 3

 

Syarat Permohonan Askes Syarat Pembuatan Kartu ASKES :

1. Mengisi Daftar Isian Peserta (Dapat diambil di Kantor ASKES) dan dilegalisasi oleh pimpinan instansi terkait dan di stempel

2. Melampirkan Fotocopy SK terakhir

3. Melampirkan Fotocopy Daftar Gaji Terakhir

4. Melampirkan Fotocopy Surat Nikah (Bagi yang sudah mempunyai Suami/Istri)

5. Melampirkan Fotocopy Akta Kelahiran Anak (Bagi yang sudah mempunyai anak)

6. Melampirkan Pas photo masing-masing 2×3 (2 lembar) (Bagi anak yang berumur kurang dari 5 tahun tidak wajib photo)

logo baru STIT MUHAMMADIYAH WATES


logo-stit-muh-wates-warna barulogo-stit-muh-wates-warna baru

PROSEDUR DAN PERSYARATAN PENDAFTARAN JEMAAH HAJI


Syarat-syarat Pendaftaran Haji (Sesuai dengan PMA RI No.6 Tahun 2010)
1. Memiliki Tabungan Haji Minimal Rp.25.000.000,-( Dua Puluh Lima Juta Rupiah )
Buku Tabungan Di Fotocopy 4 Lembar
2. Fotokopy KTP 4 Lembar
3. Fotocopy KK (Kartu Keluarga ) 4 Lembar Baca lebih lanjut

Kisah Ken Arok dan Raja-Raja Singasari


Ken Arok

Pembahasan :

Ø Ken Arok Versi Pararaton dan Kertagama

Ø Ken Arok telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan kekuasaan di Jawa oelh para dewa dan Batara Guru.

SERAT PARARATON

Serat Pararaton, atau Pararaton saja (bahasa Kawi: “Kitab Raja-Raja”), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama “Pustaka Raja”, yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti “kitab raja-raja”. Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton. Baca lebih lanjut

ken arok ken dedes


Ken Endog membuang bayi yang baru saja dilahirkannya. Bayi itu dibuang dikuburan tua dengan menulis pesan melalui secarik kertas untuk orang yang menemukan anaknya agar merawat bayinya dan memberi nama anaknya Ken Arok.
Baca lebih lanjut

Nafsu dan Perselingkuhan Dalam Cerita Ken Dedes


Kala itu ada seorang tokoh masyarakat bernama Tunggul Ametung yang menjabat sebagai akuwu (pejabat kadipaten) pada zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Kertajaya (1185 -1222).
Pada suatu masa Tunggul Ametung singgah di desa Panawijen dan disanalah ia bertemu dengan seorang gadis nan cantik rupawan. Tunggul Ametung terpikat hatinya dan berusaha mencari tahu siapakah gadis nan elok yang telah mempesonanya. Tidak sulit baginya untuk mengetahui siapa gadis itu karena dia adalah seorang akuwu pejabat yang disegani kala itu.
“Cah ayu, bidadari yang dikirim Gusti Kang Maha Agung sopo jenengmu nduk?” kata sang akuwu bertanya kepada gadis itu.
Baca lebih lanjut

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan


Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 1 Tahun 1974
Tentang
Perkawinan
DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang :
bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk pembinaan hukum nasional, perlu adanya Undang-undang tentang Perkawinan yang berlaku bagi semua warga negara.
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), pasal 20 ayat (1) dan pasal 29 Undang-undang Dasar 1945.
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1973.
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
M E M U T U S K A N:
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PERKAWINAN. Pustaka: yayasan Peduli Anak Negeri (YPAN) 1
BAB I DASAR PERKAWINAN
Pasal 1
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pasal 2
(1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.
(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 3
(1) Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang isteri.
Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami.
(2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
Pasal 4 Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 668 pengikut lainnya