Pro Kontra Bom Buku Itu Kerja Teroris atau Intelijen

Itu Kerja Teroris atau Intelijen
Soeripto (kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Tiga bom buku, Selasa (15/3), dikirim ke tiga alamat penting di Jakarta: tokoh liberal garis keras Ulil Absar Abdalla di Utan Kayu, tokoh Densus 88/Antiteror Komjen Gorries Mere, dan tokoh Pemuda Pancasila Yapto Soerjosoemarno. Ini kebilang modus baru, meski dulu terjadi teror serupa dalam bentuk paket Natal dan Lebaran.

Ciri khas dari teror semacam itu adalah meninggalkan jejak atau nuansa berbau keislaman. Namun, penggunaan pola seperti itu seperti tidak mengikuti perkembangan kecerdasan dan akal sehat masyarakat, yang makin tak percaya dengan skenario kampanye hitam tentang Islam.

Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Sutarman, mengaku aparatnya masih intensif melakukan penyelidikan barang bukti dan mencari pelakunya. Tapi bagi dia, siapa pun tangan jahat itu, adalah teroris, tanpa mengaitkan dengan Islam yang selama ini sering dikambinghitamkan.

Pengamat intelijen, Soeripto, juga memandang paket bom buku itumengandung upaya pencitraan dari pelakunya agar persepsi diarahkan kepada mereka yang selama ini dianggap menebar teror bom. Padahal, bisa jadi itu merupakan upaya pengalihan isu dari persoalan yang tengah membidik penguasa atau ulah intelijen tertentu yang mencari perhatian demi eksistensi dan kucuran dana. Seperti apa penjelasannya?

Pengamat intelejen, Soeripto

Bagaimana Anda memandang teror bom buku di tiga tempat di Jakarta yang relatif bersamaan?
Runutan kejadiannya menunjukkan itu ulah dari kelompok terencana. Bentuknya ancaman, bukan eksekusi. Terlihat dari pesan yang tertuang dalam buku yang dikirim. Ancaman itu bisa jadi memiliki banyak motif dan skenario. Kalau dilihat dari cara kerjanya, hanya dua pihak yang bisa melakukan teror seperti ini: teroris dan intelijen.

Bila dilihat dari alamat bom yang dikirim (ke Ulil Abhsar Abdala, Gories Mere, dan Japto Suryosoemarno), apa pesan dan maksud dari aksi ini?
Ini adalah bentuk persepsi. Target-target ini adalah untuk memberi kesan jika bom mengancam seorang tokoh Pancasila sekaligus ketua partai politik. Gories dalam posisinya sebagai mantan ketua penanggulangan teroris. Ulil dalam posisinya sebagai Jaringan Islam Liberal — hal yang makin menguatkan persepsi jika ini dilakukan oleh kelompok teroris. Jadi ini terkait persepsi yang bisa jadi benar atau bisa jadi persepsi yang sengaja diciptakan.

Dari bentuk dan jenis aksi teror bom buku di tiga tempat itu, apakah pelaku termasuk ahli dan profesional dalam melakukan teror?
Ini termasuk profesional dengan terencana dengan baik. Bom yang terletak dalam buku yang berbungkus rapih, menjadi bukti kelihaian pelaku. Tapi kembali, yang perlu digarisbawahi, aksi ini ditujukan sebagai ancaman bukan eksekusi. Sedangkan teroris lebih cenderung melakukan aksinya sebagai eksekusi. Terlihat dari sejumlah peristiwa yang dilakukan teroris, selalu menimbulkan korban jiwa bahkan dalam jumlah banyak.

Kemungkinan aksi Selasa (15/3) itu dilakukan teroris?
Bila dikatakan aksi ini dilakukan teroris untuk membalas dendam akan proses hukum terhadap Abu Bakar Ba’asyir, misalnya, terlalu besar risikonya. Sekarang, bagian dari jaringan Ba’asyir pasti sedang tiarap dulu, karena proses persidangan masih berlangsung. Melakukan aksi yang tidak konstruktif malah akan menambah tekanan dalam proses hukum Ba’asyir dan kemungkinan dapat memperberat hukumannya.

Kemungkinan intelijen yang bermain dalam aksi teror bom buku?
Saya lebih cenderung menduga ke arah itu. Ada unsur-unsur intelligent alert, yaitu aksi yang ingin memperlihatkan jika masih ada ancaman terorisme. Ini bisa didasari kebutuhan dana, yakni mereka (intelijen) perlu dana yang lebih, atau untuk menunjukkan eksistensi.

Tapi semua ini hanya dugaan yang masih harus dibuktikan keakuratannya. Selain itu, bisa saja teror bom buku sebagai bentuk pengalihan isu.

Pengalihan isu?
Ya. Isu bom bisa menjadi pengalih perhatian. Ada mainan baru untuk menunjukkan sesuatu yang lebih penting dibanding isu yang saat ini berkembang di masyarakat. Contoh Wikileaks (yang membocorkan kawat diplomat Kedubes AS di Jakarta ke media Australia yang menyebutkan Presiden SBY melakukan penyalahgunaan wewenang, red).

Itu bisa jadi memberi pesan kepada Amerika Serikat (AS) untuk tetap memegang perhatian pada masalah terorisme. Jika ini merupakan bentuk pengalihan isu, terutama politik, maka ini adalah sebuah peringatan.

Selama intelijen masih bagian dari politik, maka belum tercipta intelijen yang profesional di negeri ini. Ini adalah pola lama seperti Orde Baru. Pola yang sudah ditinggalkan intelijen asing sejak perang dingin.

Tapi, apakah ini benar terkait masalah politik, seperti yang dituding sejumlah pihak?
Saya kira terlalu cepat menyimpulkan jika ini didasari motif politik. Dan, sangat sembrono jika langsung menyatakan dan memberi kesimpulan akan aksi tersebut. Namun, bisa juga ada yang memanfaatkan kejadiaan ini sebagai momentum politik pribadi. Kesempatan yang bisa jadi dimanfaatkan oleh orang yang oprtunis.

Sumber :http://www.republika.co.id tgl : 18-03-2011 pkl 20.00

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: