Upacara Saparan Kalibuka di Kokap

KULON PROGO, KOMPAS.com–Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah raga Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan menggelar upacara adat Saparan Kalibuka di Desa Kalireja, Kecamatan Kokap, Selasa (1/2).

Kepala Seksi Pelayanan Data dan Informasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah raga (Disbudparpora) Kabupaten Kulon Progo Hera Suwanto, di Wates, Senin, mengatakan, upacara Saparan Kalibuka adalah kisah perjalanan Sunan Kalijaga ketika melakukan siar agama ke arah selatan dan berhenti di tempat yang datar atau rata untuk berbuka puasa.

“Saat istirahat untuk berbuka puasa Sunan Kalijaga makan nasi putih dengan lauk sate lengkap dengan bumbunya,” katanya.

Ia mengatakan masyarakat setempat mempercayai nasi sisa makan berceceran di tempat mereka berbuka puasa, tumbuh menjadi pohon besar, dan tusuk sate menjadi rumpun bambu di wilayah Sebatur.

“Bumbu sate yang terbuat dari asem tercecer menjadi pohon asem yang sampai sekarang masih hidup dan dirawat dengan baik,” katanya.

Menurut dia, ’pring gedhe’ atau rumpun bambu besar di sebelah timur wilayah Sebatur dipagari bambu, dan selalu diganti pagarnya setiap kali bersamaan dengan berlangsungnya Saparan Kalibuka.

“Tempat berbuka puasa ini sekarang dipakai sebagai tempat menyelenggarakan upacara adat Saparan Kalibuka,” katanya.

Ia mengatakan upacara adat Saparan Kalibuka diselenggarakan pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Sapar. Upacara ini biasanya diselenggarakan bersamaan dengan tradisi bersih desa, atau merti dusun yang diawali dengan membersihkan tempat upacara dan jalan menuju ke Sebatur.

“Biasanya rumpun bambu atau ’pring gedhe’ dibersihkan, dan pagar bambu diganti dengan yang baru. Pada malam harinya diadakan tahlilan dan tirakatan di Sebatur,” katanya.

Sedangkan rangkaian sesaji dalam upacara adat Saparan Kalibuka meliputi “kupat lepet” yang bermakna agar segala kesalahan dimaafkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, “sega golong” bermakna agar jiwa semua anggota keluarga satu “brayat” selalu kukuh dan selamat, lauk pauk bermakna pengharapan agar apa yang dihajadkan dapat terkabul.

Selain itu, pisang raja sebagai persembahan kepada Tuhan, nasi wuduk bermakna agar para penyelenggara dan peserta upacara selamat, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, ingkung ayam bermakna untuk menyucikan seluruh warga masyarakat atas segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, serta kambing “kendhit” merupakan sesaji pokok dalam saparan yang bermakna untuk memberi gambaran seperti apa yang pernah dilakukan para wali sewaktu berbuka puasa dengan lauk sate kambing.

“Sesampainya di Sebatur, kepala kambing didoakan oleh rois, dan kemudian ditanam. Doa-doa diucapkan oleh rois agar diberi keselamatan bagi seluruh penduduk Dusun Kalibuka. Tugas juru kunci adalah membakar kemenyan, serta mohon perlindungan dari ’dhanyang’ (penunggu) Kalibuka yang ’ngreksa pundhen’ (yang merawat) Sebatur, antara lain Kyai Kentol Bausetika, dan Nyai Kentol Ngamben,” katanya.

sumber: http://oase.kompas.com tgl 18-03-2011 pkl 21-30 WIB

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: