Islam Doktrin dan Peradaban

udul Buku : Islam Doktrin dan Peradaban
Tebal Buku : Bab I (199 halaman)
Pengarang : Nurcholis Majid

IMAN DAN TATA NILAI RABBANIYYAH

Iman itu melahirkan tata nilai nberdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (rabbaniyah / semangat Ketuhanan), yaitu tata nilai yang dijiwai oleh kesadaran bahwa hidup ini berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan (Innalillahi wainna ilaihi raji’un. “Sesungguhnya kita berasal dari Tuhan dan kita akan kembali kepadaNya”); maka Tuhan adalah “sangkan paran” (asal dan tujuan) hidup (hurip), bahkan seluruh makhluk (dumadi). Selain itu, Tuhan adalah pencipta wujud yang lahir dan bathin, dan dia telah menciptakan manusia sebagai puncak ciptaan untuk diangkat menjadi khalifah di bumi.
Semua Agama yang dibawa oleh para Nabi itu benar, khususnya yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s yang mengajar manusia untuk berserah diri dengan tulus, sepenuh hati dan damai layaknya islam kepada Allah SWT, sehingga berserah diri sepenuhnyan menjadi inti dan hakikat agama dan keagamaan yang benar. Ada konsep Ketuhanan yaitu bahwa Tuhan adalah wujud mutlak , yang menjadi sumber semua wujud yang lain. Karena itu mengetahui Tuhan adalah mustahil, karena terdapat kontradiksi in terminus, yaitu kontradiksi antara mengetahui yang mengisyaratkan penguasaan dan pembatasan , dan Tuhan yang mengisyaratkan kemutlakan, keadaan tak terbatas dan tak terhingga. Sehingga yang harus dilakukan manusia adalah usaha terus menerus dan penuh kesungguhan (mujahadah, ijtihad) untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepadaNya. Berserah diri merupakan jalan lurus menuju kepadaNya, sehingga manusia menjadi paling fitri, alami dan wajar.
Wujud Tuhan adalah wujud kepastian karena KeMahaEsaanNya dan KemutlakanNya. Sehingga semua selain Tuhan adalah wujud tak pasti dan Nisbi belaka. Maka setiap bentuk pengaturan hidup social manusia yang melahirkan kekuasaan mutlak adalah bertentangan denagan jiwa tauhid. Salah satu kelanjutan prinsip Ketuhanan adalah Paham Kemanusiaan, yaitu seluruh umat manusia dari segi harakat dan martabat asasinya adalah sama. Sehingga manusia menjadi makhluk moral, yaitu bertanggung jawan sepenuhnya atas segala perbuatannya. Pengetahauan manusia itu terbatas, karena itu semua orang dituntut untuk bersikap rendah hati untuk mengakui adanya kemungkinan orang lain yang mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi.
Manusi hidup berdemokrasi, kekuatannya diperoleh karena hakikat kesucian asalnya berada dalam fitrah yang membuatnya senantiasa berpotensi untuk benar dan baik, dan kelemahannya diakibatkan oleh kenyataan bahwa ia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang lemah, tak tahan menderita, pikiran sempit serta gampang mengeluh. Gotong royong sesama manusia berakar dalam sikap saling menghormati dan memuliakan. Setelah itu berorganisasi, wujud itu ada sejak dari yang paling sederhana, seperti adanya imam dan ma’mum antara dua orang dalam shalat sampai kepada susunan yang kompleks. Manusi harus berbuat fitri dan adil. Rasa keadilan adalah sikap jiwa yang paling diridhai Tuhan, karena rasa tersebut paling mendekati realisasi pandangan hidup yang bertaqwa kepadaNya.

IMAN DAN PERSOALAN MAKNA
SERTA TUJUAN HIDUP MANUSIA

Tujuan hidup manusia adalah “bertemu” ( liqa’) dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dalam ridha-Nya. Sedangkan makna hidup manusia didapatkan dalam usaha penuh kesungguhan (mujahaddah) untuk mencapai tujuan hidup ini tidak saja tanpa makna dan tujuan, melainkan juga penuh kesengsaraan, sehingga mati sebenarnya adalah lebih baik dari pada hidup.
Tidak seperti kaum optimis yang berpendapat hidup ini bermakna dan tujuan percaya kepada ajaran agama, namun praktis semua kaum pesimis, yang menolak adanya makna dan tujuan hidup, tidak beragama, malah anti agama.
Kaum pesimis diwakili antara lain oleh Schopenhauer, diawali dengan pandangan tertentu tentang kematian. Setiap kematian adalah peristiwa tragis dan amat menyedihkan. Ini berarti menurut kaum pesimis, hidup ini hanyalah proses pasti menuju tragedy. Jadi hidup adalah kesengsaraan. Tapi nyatanya sedikit sekali kalangan kaum pesimis sendiri yang memilih “kembali kepada ketiadaan” dari pada tetap hidup dengan segala tragedinya ini. Karena kebahagiaan adalah semu dan palsu, maka manusia adalah mahluk yang sengsara. Argument lain kaum pesimis dalam menafsirkan makna dan tujuan hidup ialah definisi negatif mereka tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tidak adanya kesengsaraan.
Menurut kaum pesimis tidak ada masa lalu dan masa depan yang ada hanya sekarang.tapi karena “sekarang” terdiri dari deretan atom waktu yang terus bergerak menjadi masa lalu, maka ‘sekarang” pun bukanlah hal yang memadai. Maka tipikal ucapan kaum pesimis ialah, “segala yang lalu telah tiada, segala yang akan datang belum terjadi, dan segala yang ada sekarang tidak memadai” (all that was is no more, all that will be is not yet, and all that is unsufficient). Dengki adalah sikap yang paling tidak rasional, tapi justru itu yang di dunia ini agaknya paling real.
Menurut kaum Optimis mengenai masalah kematian, yaitu mereka yang berpendapat tentang adanya makna dan tujuan hidup, membalikkan argument kaum pesimis. Kaum pesimis pun melihat pembunuhan (yakni, tindakan sengaja mematikan orang lain) adalah suatu tindakan kejahatan. Maka, pertanyaan berdasar kepada mereka adalah mengapa kematian disebut kesengsaraan, jawaban yang logis, tentunya, bahwa hidup, bagaimanapun, adalah lebih baik dari pada mati. Maka “menghidupkan” atau “menghidupi” orang adalah lebih baik dari pada “mematikan”nya. Kenyataan yang umum hampir pada setiap orang ialah pandangan bahwa hidup ini cukup berharga, sekurang – kurangnya sebelum ia menyadari bahwa ia akan berakhir dengan kematian.
Tinjauan Keimanan : dari garis kenalaran kaum optimis, yang beragama dan yang anti agama, sama – sama berpendapat bahwa hidup ini cukup berharga, karena mengandung makna dan tujuan. Seperti telah disinggung kesaadaran hidup bermakana dan bertujuan diperoleh seseorang semata – mata karena dia mempunyai tujuan yang dia yakini, kalau perlu dengan pengorbanan. Tapi itu berarti, mengatakan bahwa seseorang hidupnya bermakna, atau mungkin sangat bermakna, dengan sendirinya mengatakan bahwa hidup orang itu bernilai positif, yakni baik. Dari persoalan di atas Nampak jelas bahwa selain ada maslah makna dan tujuan hidup, juga tidak kurang pentingnya, ialah persoalan nilai makna dan tujuan hidup itu. Dengan kata lain, persoalan pokok manusia bukanlah menyadarkan bahwa hidup mereka bermakna dan bertujuan, tapi bagaimana mengarahklan mereka untuk menempuh hidup dengan tujuan yang benar dan baik. Hidup ini bukanlah suatu lingkaran tertutup yang tanpa ujung pangkal. Ia berpangkal dari sesuatu dan berujung kepada sesuatu, yaitu Tuhan. Selain itu, Pandangan bahwa hidup berasal dari Tuhan dan menujun kepadanya itu dipilih karena harapan yang ditawarkannya terhadap orang mempercayai dan menganutnya. Harapan itu ialah bahwa ia bias merupakan pegangan hidup yang kokoh, jika bukan satu-satunya yang kokoh. Orang yang memiliki hidup tanpa makna merupakan gelandangan., tetapi hanya bersifat terrestrial, duniawi, karena lepas dari pertimbangan rasa makna kosmis ynag meliputi seluruh jagad raya. Karena tujuan hidup adalah Tuhan, maka arti dan makna hidup ditemukan dalam usaha kita “bertemu” dan “mencari wajah” Tuhan, dengan harapan memperoleh ridha. Sewdangkan tujuan hidup kosmis ialah memperoleh kebahagiaan sejati dalam hidup sesudah mati. Kemudian sebagai hakikat diri yang paling mendalam, kalbu adalah hakikat diri yang paling pribadi. Seperti diaktakan filosofi Kant, factor yang paling menentukan dalam amal manusia ialah “kemauan baik “ (goodwill), tujuan dan tingklah laku moral.
Sebagai jalan bagi manusia untuk menyempurnakan jati dirinya itu Tuhan juga menampilkan diri, melalui berita yang dibawa para Nabi, dalam bentuk kualitas – kualitas moral. Manusia tidak akn menjadi Tuhan, tetapi dengan rasa ketuhanan yang mendalam (rabbaniyyah, taqwa), ia akan tumbuh menjadi makhluk akhlaqi yang luhur, yang meresapi unsur – unsur kualitas ilahi. Maka, kesimpulannya ialah, bahwa nilai ketuhanan merupakan wujud tujuan dan makna hidup kosmis dan eksistensial manusia, dan nilai kemanusiaan merupakan wujud makna terrestrial hidup manusia itu.

SIMPUL – SIMPUL KEAGAMAAN PRIBADI : TAQWA TAWAKKAL DAN IKHLAS

Taqwa adalah sejajar dengan Rabbaniyyah dalam firman yang lain, yang menuturkan salah satu tujuan pokok diutusnya seorang nabi atau rasul kepada umat manusia. Menurut A.Yusuf nilai – nilai ayat yang berkenaan dengan taqwa diantaranya, 1) keimanan kita harus sejati dan murni, 2)kita harus siap untuk memancarkan iman keluar dalam bentuk tindakan kemanusiaan kepada sesame, 3)kita harus menjadi warga masyarakat yang baik, yang mendukung sendi – sendi kehidupan kemasyarakatan, 4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tak goyah dalam setiap keadaan.
Tawakkal adalah bersandar atau mempercayai diri. Dalam agama tawakkal ialah sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah. Menurut kebanyakan orang tawakkal adalah sikap aktif, dan tumbuh nyata dari pribadi yang memahami hidup dan menerima kenyataan hidup dengan tepat.
Dari pandangan kesufian, keikhlasan dan kemurnian bathin adalah nilai yang amat rahasia dalam diri sesorang. Pada tingkat pribadi sesorang, keikhlasan terasa sebagai tindakan yang tulus terhadap diri sendiri dalam komunikasinya dengan sang Maha Pencipta dan untuk mendekat diri kepadaNya.

IBADAT SEBAGAI INSTITUSI IMAN

Ibadat ialah menunjuk kepada amal perbuatan tertentu yang secara khas bersifat keagamaan. Ibadat atau Ubudiyah dalam melakukan amal perbuatan itu seseorang harus hanya mengikuti petunjuk agama dengan referensi kepada sumber – sumber suci. Kitab suci sendiri juga selalu berbicara tentang iman dan amal shaleh. Dua serangkai nilai yang harus dimiliki manusia, tapi problemnya adalah : pertama, dalam kenyataan historis tidak pernah ada system kepercayaan yang tumbuh tanpa sedikit banyak mengintrodusir ritus-ritus. Kedua, bahwa iman berbeda dari system ilmu atau filsafat yang hanya berdimensi rasionalitas, selalu memiliki dimensi suprarasional atau spiritual yang menekspresikan diri dalam tindakan – tindakan devotional (kebaktian) melalui system ibadat. Ketiga, iman dan amal saleh penting, yaitu suatu rangkaian dari dua nilai yang salah satunya (iman) mendasari amala saleh yang lain. Selin itu, ibadat juga mengandung makna instrumental, karena ia bisa dilihat sebagai usaha pendidikan pribadi dan kelompok ke arah komitmen atau pengikatan batin kepada tingkah laku bermoral. Asumsi nya ialah bahwa melalui ibadat, seseorang yang beriman memupuk dan menumbuhkan kesadaran individual dan kolektifnya akan tugas pribadi dan sosialnya mewujudkan kehidupan bersama.
Ibadat mengandung arti pengagungan, yakni hal yang secara inheren terdapat pada kecendrungan alami manusia dan alam kejadian asalnya sendiri. Salah satu bentuk ibadat dalam islam yang amat simbolik untuk kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup manusia adalah shalat. Perkataan shalat secara harfiah berarti seruan, sama dengan artii perkataan “do’a” yakni seruan seorang hamba kepada Tuhan. Shalat yang berhasil akan mempunyai dampak membentuk sikap jiwa yang bebas dari kekuatiran tidak pada tempatnya menghadapi hidup.

EFEK PEMBEBASAN SEMANGATV TAUHID : TELAAH TENTANG HAKIKAT DAN MARTABAT MANUSIA MERDEKA KARENA IMAN

Tauhid ialah menyatukan / mengesakan. Dalam ungkapan “tauhid al-quwwah” yang berarti mempersatukan kekuatan.
Dampak pembebasan semangat tauhid dalam hidup manusia sering muncul dalam berbagai percakapan serius di masa – masa akhir ini. Efek pembebasan semangat tauhid antara lain merupakan kelanjutan langsung pandangan kemanusiaan yang melekat dan menjadi konsekuensinya, yaitu bahwa salah satu rangkaian tauhid atau pahama Ketuhanan YME ialah paham tertentu tentang hakikat dan martabat manusia. Dengan kata lain, tidak ada tauhid tanpa menmghasilkan pandangan tertentu tentang harkat dan martabat manusia.
Tauhid tidaklah cukup dan berarti percaya kepada Allah saja, tetapi mencakup pula pengertian yang benar tentang siapa Allah yang kita percayai itu dan bagaiman kita bersikap kepaadanya serta kepada objek selainNya. Sedangkan kaum yang mempersekutukan Tuhan adalah penganut paham syirik yaitu paham bahwa Tuhan mempunyai Syari’ / sekutu yaitu “oknum” yang menyertainya dalam hal – hal keilahian.
Kepercayaan orang – orang Arab pra-islam bahwa Allah mempunyai anak – anak perempuan, selanjutnya, ada pula indikasi bahwa orang – orag jahiliyah itu, sekalipunb telah percaya akan adanya Allah yang menciptakan langit dan bumi, juga memitoskan binatang – binatang yang dipercayai mampu memberikan syafa’at / pertolongan.
Dapat dismpulkan bahwa, percaya kepada Allah dengan sendirinya berarti tauhid, Allah itu masih mengandung kemungkinan percaya kepada yang lain-lain sebagai peserta Allah dalam keilahian.diantara manusia memang ada yang tidak percaya sama sekal kepada Tuhan, yaitu mereka kaum ateis. Tetapi mereka adalah minoritas kecil. sebaliknya, problema utama manusia adalah justru politeisme atau syirik. Karena problem utama manusia adalah politeisme bukan ateisme, maka, program pokok al-quran adalah melepaskan manusia dari belenggu paham Tuhan banyak itu dengan mencanangkan dasar kepercayaan yang diungkapkan dalam kalimat “al-nafi wa al-itsbat” atau “nagasi-konfirmsi” yaitu kalimat “tidak ada Tuhan selain Allah”.
Pemurnian kepercayaan kepada TuhanYang maha esa itu sendiri. Pertama, dengan melepaskan diri dari kepercayaan yang palsu dan, kedua, dengan pemusatan kepercayaan hanya kepada yang benar. Dua hal ini dirangkum dalam dua surat pendek al-quranm, yaitu, surah al-kafirun/109 dan surah al-ikhlas/122. Taymiyyah dikatakan mengandung tawhid uluhiyyah (penegasan bahwa yang boleh disembah hanyalah allah satu-satunya). Dan yang kedua diikatakan mengandung tawhid rububiyyah (penegasan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang satu secara mutlak dan transendental).
Huston smith menyinggung bahwa keengganan manusia untuk menerima kebenaran ialah antara lain karena sikap menutup diri yang timbul dari refleks agnostik atau keengganan untuk tahu kebenaran yang diperkirakan justru akan lebih tinggi nilainya daripada apa yang sudah ada pada kita. Belenggu itu ialah apa yangdikenal dengan sebutan “hawa nafsu” yang berarti keinginan diri sendiri. Seorang disebut menuhankan keinginan dirinya sendiri jika dia memutlakkan diri dan pandangan atau pikirannya sendiri. Biasanya orang yang seperti itu akan nudan terseret kepada sikap-sikap tertentu dan fanatik. “la ilaha illa Llah” itu, dipandang dari sudut efeknya kepada peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan pribadi seseorang. Bentuk-bentuk subyektifisme, baik yang positif maupun yang negatif, yaitu perasaan senang ataupun benci kepada sesuatu atau seseorang, tidak akan menjadikan pandangannya kabur dan kehilangan wawasan tentang apa yang sungguh-sungguh benar atau salah, dan yang baik atau buruk.
Dalam kitab suci, prinsif tawhid atau pandangan hidup ber-keTuhanan YME langsung dikaitkan dengan sikap menolak thaghut. Thaghut dapat diartikan mengacu kepada kekuatan sewenang-wenang, otoriter dan tiranik atau, seperti dikatakan A.hasan , “apa-apa yang melewati batas”. Kesanggupan seorang pribadi untuk melepaskan diri dari belenggu kekuatan tiranik dari luar adalah salah satu pangkal efek pembebasan sosial semangat tawhid. Salah satu hakikat syirik, sepertihalnya dengan setiap sistem mitologis dan tiranik, efek syirik ialah pembelengguan dan perampasan kebebasan. Pada mitologi terhadap alam, pembelengguan itu berwujud tertutupnya kemampuan manusia bersangkutan untuk melihat hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan itu menurut apa adanya.
Perampas kebebasab manusia tidak ada kecuali sesama manusia sendiri, melalui sistem-sistem tiranik dan cultik, baik dalam pemerintahan maupun dalam bidang-bidang kehidupan yang lain, termasuk dalam kehidupan keagamaan. Disebabkan efek pembelengguannya yang menghancurkan martabat dan hakikat kemanusiaan, maka syirik disebutkan sebagai dosa terbesar seseorang, yang tidak bakal diampuni oleh Allah, sampai syirik itu ditinggalkannya sama sekali. Dampak pembebasan sosial yang besar ialah egalitarianisme. Dengan kata lain, dalam islam dengan semangat tawhidnya itu sama sekali tidak dibenarkan adanya klaim seseorang sebagai telah menerima pendelegasian wewenang Tuhan. Itulah makna pokok kalimat syahadat: pembebasan dari belenggu kepercayaan, disusul kepercayaan kepada Allah, tuhan yang sebenarnya, demi keteguhan dan kelestarian kebebasan itu sendiri.

IMAN DAN EMANSIPASI HARKAT KEMANUSIAAN
Dalam kenyataan historis, perjuangna memperoleh dan mempertahankan martabat dan harkat kemanusiaan merupakan ciri dominan deretan pengalaman hidup manusia sebagai mahluk sosial. Sebab dalam kenyataan, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah dan kebahagiaan daripada sebaliknya. Kejatuhan manusia itu terlambangkan dalam terusirnya Adam dan Hawa dari surga karena melanggar larangan Tuhan. Mereka terangkat hanya setelah adam menerima pengajaran Tuhan dan bertaubat.
perkataan “iman” sering diartikan sebagai percaya. Untuk memperoleh gambaran tentang makna nya yang lengkap, barangkali baik kita ingat bahwa perkataan ‘iman “berasal dari akar kata yang sama dariperkataan “aman” dan “amanat” atau diandalkan.salah satu wujud rasa iman adalah sikap hidup yang memandang tuhan sebagai tempat untuk menyandarakan diri dan menggantungkan harapan. Oleh karena itu konsestensi iman adalah “huznushah kepada Tuhan”.
Problem utama manusia adalah bagaimana mengubah manusia dari menganut pahan Tuhan (palsu) yang banyak (politeisme) kepada paham keTuhanan YME. Syirik dosa yang amat besar yang tidak akan diampuni oleh Tuhan. Yaitu karena setiap praktek syirik tentu menghasilkan efek pemenjaraan harkat manusia dan pemerosotannya, dan ini berarti melawan natur atau fitrah manusia sendiri sebagaimahluk yang paling tinggi dan dimuliakan Tuhan. Syirik sama dengan mitos, adalah pengangkatan sesuatu selain Tuhan secara tidak benar.
Disinikita bertemu dengan makna iman lebih lanjut, yaitu menjadikan Tuhan Yang Maha Esa satu-satunya arah dan tujuan kegiatan hidup kita berbuat sesuatu lillahi Ta’ala dan demi ridha Tuhan.maka dengan iman manusia akan memiliki kembali hidupnya yang otentik. Menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup, dalam gambran grafisnya lagi seperti diberikan ajaran agama, berarti menempuh hidup mengikuti “jalan lurus’ (al-shirath al-mustaqim).”jalan lurus” itu terhimpit, atau tumpang tindih, dengan hati nurani, pusat dorongan manusia untuk “bertemu”(liqa) dengan Tuhan.
Keseluruhan keinsafan hidup harus bersifat “theosentris” bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Manusia menemukan dirinya, dengan dampak ketentraman lahir dan batin serta rasa optimisme terhadap hidup dan kemantapan kepada diri sendiri. Wujud dimensi sosial horizontal ialah kerja-kerja kemanusiaan atau, dalam istilah yang lebih “teknis” keagamaan, amal shaleh. Dengan kata lain manusia harus menyatupadukan “teosentrisme” dalam pandangan hidup atau iman dengan “antroposentrisme” dalam kegiatan hidup atau amal. Amal manusia itu atoposentris adalah juga merupakan akibat logis ide tentang ke-Maha Esaan Tuhan. Manusialah yang perlu kepada amalnya sendiri, baik ataupun buruk amal itu akan kembali kepada manusia. Dan pandangan hidup yang teosentris dapat dilihat mewujudkan diri dalam kegiatan keseharian yang antroposentris. Bahkan antara keduanya itu tak dapat dipisahkan. Maka konsekuensunya, orang yang berketuhananan dengan sendirinya berperikemanusiaan. Justru pengakuan berketuhanan yang dinyatakan dalam kegiatan beribadat ditegaskan sebagai tidak mempunyai nilai apapun sebelum disertai tindakan-tindakan nyata dalam rangka perikemanusiaan.dampak paling nyata emansipasi harkat dan martabat kemanusiaan karena iman kepada Allah ialah terwujudnya pola hubungan antar manusia dalam semangat egalitarianisme.

IMAN DAN PERWUJUDAN MASYARAKAT YANG ADAIL, TERBUKA SERTA DEMOKRATIS

Secara pemikiran sederhana kepada generasi pertama kita harus berusaha mencari bahan-bahan historis untuk otentifikasi suatupandangan keagamaan, termasuk pandangan keagamaan yang memancar dalam tatanan kehidupan sosial seperti keadilan , keterbukaan dan demokratis. Pengertiaan kebanyakan orang muslim sendiri kepada masa klasik islam (salaf) itu telah banyak tercampur dengan unsur-unsur pandangan yang terbentuk dalam sejarah. Tujuan dan penilaian moderen terhadap masa klasik islam sebagai masyarakat egaliter partisipati, masa klasik islam itu menyerupai benar gambaran sebuah masyarakat yang adil, terbuka dan demokratis seperti dalam konsep-konsep sosial politik moderen.
Tuhan adalah maha adil,menegakkan keadilan adalah perbuatan yang opaling mendekati taqwa atau keinsafan ketuhanan dalam diri manusia. Keadilan di dalam kitab suci dinyatakan terutama dengan istilah-istilah ‘adl dan qisth, seperti dikatakan oleh yusuf ali ialah suatunistilah yang serba meliputi, yang bisa mencakup semua jenis kebaikan dalam pemikiran kefilsafatan. Keadilan berdasarkan iman menuntut sesuatu yang lebih hangat dan manusiawi daripada konsef kadilan formal dalam sistem hukum romawi.
Pengertian adil (‘adl) dalam kitab suci juga terkai erat dengan sikap seimbang dan menengahi (fair dealing), dalam semangat moderasi dan toleransi, yang dinyatakan dengan istilah wasat (pertengahan). Mendalamnya makna keadilan berdasarkan iman itu juga bisa dilihat dari kaitannya dengan “amanat” kepada umat manusia untuk sesamanya, khususnya amanat berkenaan dengan kekuasaan memerintah. Maka yang pertama-tama yang harus dipenuhi bagi suatu kekuasaan untuk mendapat keabsahan atau legitimasinya ialah menjalankan amanat itu, dengan menegakkan keadilan sebagai saksi bagi keadilah Tuhan. Salah satu wujud nyata iman yaitu sikap tidak memutlakkan sesama manusia, dalam bentuk kesediaan untuk menghargai pikiran dan pendapat mereka yang otentik.
Ketertarikan antara nilai-nilai dengan demokrasi yaitu pengaturan tatanan kehidupan atas dasar kemanusiaan, yakni kehendak bersama. Termasuk kedalam jenis tirani ialah yang dibangun justru atas nama agama, seperti dalam sistem tatanan hidup terokratik sebagaimana dipahami di barat. Ketertarikan antara orientasi hidup berketuhanan atau rubbuniyyah adalah memutuskan urusan bersama melalui musyawarah (syura), keadilan sosial (mendermakan sebagaian harta), berjuang bersama melawan tirani, serta dalam keadaan tertentu ketabahan yang terpuji menghadapi tirani itu.

IMAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
(SEBUAH TINJAUAN HISTORIS SINGKAT)

Bagi seorang muslim, Iman adalah bagian paling mendasar dari kesadran keagamaannya. Perkataan iman menjadi bahan pembicaraan di setiap pertemuan keagamaan, yang selalu disebutkan dalam rangka peringatan agar dijaga dan diperkuat. Dengan berhadapannya dunia islam dan dunia yahudi-kristen (Barat) sekarang ini, pembicaraan tentang kaitan antara iman dan ilmu dalam islam menjadi semakin sulit. Sedangkan seorang penganjur islam mengalami kesulitan menghadapi kenyataan betapa umat islam sekarang ini nampak seperti tidak mempunyai peranan apa – apa dalam ilmu pengetahuan.
Dalam peradaban Islam Klasik, terdapat semangat keterbukaan yang merupakan wujud nyata rasa keadilan yang diemban umat islam sebagai “umat penengah” (ummat wasath), seperti Firman Allah “dan demikianlah Kami (Tuhan) jadikan kamu sekalian umat penengah, agar supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia …………”. Nilai – nilai permanen itu adalah keseluruhan nilai dalam ajaran islam yang menjadi konsisitensi keimanan yang benar.
Bertrand Russel dalam pendapatnya tentang Orisinilitas dan Kontribusi Ilmuwan Islam, cenderung merehkan tingkat orisinilitas konstribusi islam di bidang filsafat, namun tetap mengisyaratkan adanya tingkat orisinalitas yang tinggi di bidang kimia dan matematika. Kemudian para filosof klasik islam, betapa pun pengembaraan intelektualnya adalah orang – orang yang relegius. Al-Ghazali bukanlah orang pertama dan terakhir yang berusaha membongkar filsafat. Sebelumnya telah tampil beberapa sarjana dan pemikir yang berjuang membendung Hellenisme ke dalam sistem ajaran islam itu.salah satunya adalah “ilmu kalam”, suatu teologi dialektis islam yang dibangun dengan banyak meminjam unsur – unsur Aristotelianisme. Selain itu, Ibn Taymiyyah, dalam kritiknya terhadap logika formal ialah bahwa metode berfikir ala aristoteles itu tidak akan menemaukan kebenaran, karena ada klaim akan kebenaran universal itu di dunia. Baginya, kebenaran yang dicapai oleh logika formal tidak lebih dari hasil intelektualisasi (ta’aqqul) dalam otak / pikiran yang tidak selalu cocok dengan kenyataan di luar. Kebenaran hanya dapat diketahui dengan melihat kenyataan di luar itu. Ia juga banyak menggunakan metode empiris dalam mengembangkan pengetahuan mereka. Dari sini, hal – hal yang bersifat kefilsatan yang membentuk suatu pandangan dunia dan hidup menyeluruh sesungguhnya telah disediakan oleh pokok-pokok ajaran islam dalam Al Qur’an, yang oleh Iqbal disebut mengajarkan metode berpikir empiris.
Peradaban islam adalah yang pertama menginternasionalisasikan ilmu pengetahuan yang terjadi dalam 2 bentuk, yaitu pertama, sesuai dengan kedudukan dan tugas suci mereka sebagai umat penengah dan saksi atas manusia. Kedua, sejalan denagan keyakinan bahwa ajaran agama mereka harus membawa kebaikan seluruh umat manusia sebagai rahmatan lil ‘alamin.Kemudian, umat islam klasik menjadi pemimpin intelektual dunia selama 4 abad dengan puncaknya pada khalifah Harun Ar Rasyid (paham Al Sunnah) dan Al mi’un (paham Al-Mu’tazilah) putranya, yang secara berurutan memerintah dari tahun 783-933. Dimond mengatakan bahwa orang – orang muslim klasik itu membagi manusia dalam lingkungan kekuasaannya menjadi : 1)kelompok yang tertarik kepada ilmu pengetahuan (Yahudi, Yunani & Persi) 2)Kelompok yang tidak tertarik (Cina, Turki, Kristen). Permasalahan lain, disebabkan oleh suasana permusuhan antara kekhalifahan islam dengan kekaisaran Kristen Byzantium, orang – orang yahudi nampak lebih mengakomodasikan diri ke peradaban islam. Selain itu terdapat daerah netral yang di dalamnya semua golongan berpartisipasi secara bebas dan positif. Kemudian keemasan dan keruntuhan islam juga dirasakan oleh Bangsa Yahudi. Sebaliknya, kebangkitan Barat menimbulkan rasa amat tidak enak bagi muslimin. Tetapi yang lebih menderita adalah Yahudi, karena hal ini merupakan permulaan dari pengalaman mereka yang paling tragis sepanjang sejarah yaitu genosida oleh orang – orang Jerman Nazi. Terlebih lagi Munculnya Israel yang merupakan malapetaka bagi Yahudi.
Meskipun umat islam sekarang mundur / ketinggalan, maka hal itu tidak perlu menjadi alasan kesedihan yang berlarut – laruit, sehingga menghabiskan energi kita. Kaum musliminharus yakin bahwa potensi tetap hidup pada umat dan agamanya untuk sekali lagi maju ke depan, memimpin umat manusia sesuai dengan design Tuhan, untuk mengulangi peranannya sebagai pembawa kebaikan bagis seluruh alam. Demikianlah, maka kita harus mengambil tanggung jawab keadaan kita sekarang tanpa banyak menggantungkan nasib kepada orang luar selain Tawakkal kepada Allah SWT.

IMAN DAN KEMAJEMUKAN MASYARAKAT
INTRA-UMAT ISLAM

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yangmajemuk / plural. Dan karena keunikannya, maka mesyarakat kita perlu melakukanperlakuan yang unik pula, yaitu berdasarkan paham kemajemukan pluralisme. Dalam kitab suci terdapat petunjuk yang tegas behwa kemajemukan adalah kepastian (taqdir menurut maknanya dalam Al Qur’an) dari Allah Ta’ala. Selain itu, kemajemukan Umat islam di Indonesia ada yang terdiri dari Kaum Sunni (Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah) bahkan dalam bidang fikih pun dapat dikatakan bahwa mereka hampir seluruhnya penganut mazhab Syafi’i. ini mengesankan adanya kesatuan umat islam Indonesia. Tetapi ada juga yang bertentangan, misal Sarekat islam (non koperasi) dengan Muhamaddiyah (koperasi), dalam pendidikan Muhammaddyyah Al-Irsyad (menerima unsur – unsur modern) dengan Nahdlatul Ulama (menolak sistem asing dan mempertahankan sisitem islam asli). Dalam agama islam khususnya, gerakan reformasi sering dikaitkan dengan gerakan pemurnian. Sebenarnya untuk beberapa kalangan, antara keduanya itu sejajar dan saling tumpang tindih bahkan memiliki kesamaan.sedangkan sesuatu yang baru / tambahan disebut Bid’ah yang merupakan pangkal dari percekcokan.
Usaha menumbuhkan kesadaran yangs ecara khusus berkaitan denagan pembahasan tentang kemajemukan intra-umat ini baiknya dikemukakan beberapa tonggak sejarah perkembangan agama islam dengan menampilkan tokoh – tokoh tertentu yang besar peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan agama islam secara historis :
1. Nabi Muhammad Saw : masa ketika umat islam benar – benar tunggal ataupun jika ada variasi di kalangan mereka tidak sempat muncul ke permukaan, berkat wibawa dan kepemimpinan beliau sendiri.
2. Abu Bakar al-Shiddiq, r.a. : merupakan ujian kelangsungan islam. Banyak terjadi pemberontakan, tetapi berhasil diatasi. Al Qur’an dibukukan.
3. Umar ibn Khattab, r.a : melakukan ekspansi militer dan politik ke luar daerah jazirah Arabia. Dijadikan rujukan utama dalam usaha pencarian presiden hukum islam.
4. Utsman ibn Affan, r.a. : merealisasikan penyatuan Al Qur’an menjadi al-Mush’huf al-Umm. Terjadi fitnah pertama dalam islam tentang ketidakpuasan kepemimpinannya dan ia terbunuh. Ini merupakan al-fitnan al-kubra (ujian / malapetaka besar)
5. Ali ibn Thalib, r.a : bercirikan berbagai pemberontakan politik. Merupakan contoh komitmen yang kuat kepada keadilan sosial dan kerakyatan, meninggalkan kitab nahj al-Balaghah, pembukuan berbagai ungkapan bijaksananya.
6. Muawwiyah ibn Abi Sufyan : ekspedisi pembebasan dapat dijalankan lagi oleh kaum muslimin dan berhasil merentangkan daerah kekuasaaan politik dari Lautan Atlantik di barat sampai ke lembah Indus di Timur, ide jamaa’ah muncul dan menjadi bagian dari paham Sunni.
7. Abd al-Malik ibn Marwan : dapat menghentikan pemeberontakan Mekkah dengan kerugian yang luar biasa (merupakan Fitnah kedua). Meneruskan pembakuan ejaan Al Qur’an denagan membuat tanda baca tertentu, sehingga membacanya lebih pasti.
8. Umar ib Abd al-Aziz : kepemimpinannya merupakan tonggak sejarah islam yang amat penting karena merupakan usaha sungguh- sungguh pertama untuk mengembangkan “inklusifisme” intra umat.

Selain itu ada lagi Al-Hasan al-Basri (model klasik keulamaan dan menjadi tokoh acuan berbagai pemahaman dan pemikiran islam berkembang sesudahnya), Ibn Syihab al-Zuhri (sarjana Hadits), Jahm ibn Safwan (paham Jahmiyyah), Al-Washil ‘Atha’ (pelopor paham Mu’tazilah), Abu Hanifah (memahami dan menjabarkan hukum islam / fiqh secara sistematis), Malik ibn Annas ( kitab al-Muwaththa’), Abu Yusuf Ya’qub (menulis kitab hukum islam pertama, Al-Kharaj), Al-syafi’I (menyusun teori penalaran hukum islam / ilmu ushul al-Fiqh), ibn Hanbal (paham riwayah), Al Bukhari (menerapkan dan mengambangkan teori Syafi’i), Al Asyari (konsep kasb / perolehan acqisition), Al-Farabi (al-mu’allim al-tsani / guru kedua), Ibn Sina (bidang kedokteran, dengan nama al-Syaykh al-Ra’is / guru besar utama ), Muhammad Abduh (pembaharu islam Mesir / Bapak modernisme islam), dll.
Begitulah ajaran dasr tentang persaudaraan islam, lengkap dengan petunjuk praktis pelaksanaanya yang dikaitkan dengan kemajemukan umat, kemudian diteruskan dengan persaudaraan kemanusiaan.

IMAN DAN KEMAJEMUKAN MASYARAKAT : ANTAR UMMAT
(Pandangan tentang Kesatuan Kebenaran Universal, serta tentang Konstitusi dan Perkembangan Agama-Agama)

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk / plural, karena terdapat beberapa agama yang hidup berdampingan seperti islam, budha, hindhu, protestan dan katholik. Sehingga mau tidak mau harus terciptanya sikap toleransi antar umatnya.
Dengan demikian, Al Qur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan (religious plurality). Ajaran ini menandaskan pengertian dasar bahwa semua agama diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh pengikut agama itu masing – masing, baik secara pribadi maupun secara kelompok.
Firman Allah diturunkan untuk menegaskan bahwa siapa pun dapat memperoleh keselamatan asalkan dia beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan berbuat baik, tanpa memandang keturunan apa dia.

Penulis Nurcholis Majid ini menulis Buku “Islam sebagai Doktrin dan Peradaban”, khususnya BAB I menggunakan Metodologi Historycal, Sosiologis dan Filosofi. Alasan Historycal, karena dalam Bab ini mengulas tentang sejarah islam dari terdahulu hingga yang dirasakan sekarang, sehingga bisa muncul hukum – hukum yang berkembang islam sekarang. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari pengalaman sejarah dan hukum pada masa terdahulu (halaman 130 s/d 175). Selain itu, sosiologis karena, penentuan hukum – hukum dan paham – paham terwujud karena telah melakukan pendekatan sosial sebelumnya, melalui pergaulan, tingkah laku, perkataan dan pemikiran pada masa itu (halaman 163 s/d 176). Selain itu juga menggunakan Pendekatan Filosofi, karena dalam bab ini banyak sekali dipaparkan pendapat – pendapat dan pemikiran – pemikiran tokoh tertentu.

Kelebihan buku ini yaitu banyak sekali dipaparkan pengetahuan dan solusi dari pertanyaan – pertanyaan yang selalu ada di dalam setiap benak umat islam. Misalnya, mengenai kebenaran agama – agama terdahulu yang dibawa oleh Nabi – Nabi terdahulu dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, beserta dengan kitab – kitabnya. Selain itu, bab ini juga memaparkan tentang tokoh – tokoh islam terdahulu yang memegang beberapa peranan penting dalam perkembangan islam di dunia.
Sedangkan kelemahannya adalah bab ini banyak menggunakan kata – kata dan istilah – istilah yang sangat sulit dicerna. Selain itu ada juga pengolahan kata – kata yang membingungkan. dari:http://www.makalah-instan.blogspot.com/2009/11/pengantar-studi-islam.html

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: